Makalah Anggaran Operasional Biaya Tenaga Kerja


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Pada hampir setiap organisasi bisnis, terdapat sejumlah aktivitas berbeda yang berjalan serenpak, seperti penjualan, produksi, pembelian, distribusi, dan pendanaan. Semua aktivitas itu saling berkaitan dengan cara sedemikian rupa sehingga aktivitas tersebut mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Dengan demikian, perencanaan bagi seluruh organisasi berarti perencanaan bagi setiap aktivitas didalamnya. Anggaran operasional merupakan kuantifikasi rencana-rencana yang salah satunya berhubungan dengan kegiatan tenaga kerja. Dimana tenaga kerja pendukung proses pemasaran, produksi dan keuangan yang dipakai untuk membuat tujuan bagi pendapatan, biaya, aktiva, kewajiban, dan kegiatan usaha lainnya.
Pada setiap perusahaan tentu ada tenaga kerja untuk melakukan semua aktifitas produksinya. Buruh atau tenaga kerja, merupakan salah satu faktor produksi yang utama dan selalu ada dalam perusahaan, meskipun pada perusahaan tersebut sudah digunakan mesin-mesin. Mesin yang bekerja dalam perusahaan tentu saja perlu ditangani oleh tenaga manusia, meskipun mesin-mesin zaman sekarang sudah banyak yang bersifat otomatis, dan untuk itu perusahaan mengeluarkan biaya tenaga kerja untuk keperluan buruh atau sebagai balas jasa yang diterima tenaga kerja. Untuk membiayai tenaga kerja dan untuk mengefisienkan waktu dan biaya perusahaan maka sudah seharusnya perusahaan menghitung biaya tenaga kerja agar tidak dalam proses produksinya optimal.
Biaya ini harus sudah  dihitung sebelum perusahaan melakukan aktifitas produksinya dan biaya seperti ini sering disebut dengan Anggaran Tenaga Kerja Perusahaan. Perhitungan anggaran biaya perusahaan ini sangat bermanfaat sekali bagi perusahaan karena untuk mengoptimalisasikan  dari segi biaya yang dikeluarkan perusahaan juga akan berdampak pada segi harga jual ke pasaran.

1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi permasalahan pada makalah
ini adalah:
1.2.1.                Apa yang dimaksud Dengan Anggaran Opersional ?
1.2.2.                Bagaimana Penyusunan Anggaran Operasional ?
1.2.3.                Bagaimana Perencanaan Tenaga Kerja ?
1.2.4.                Apa Jenis-jenis Tenaga Kerja ?
1.2.5.                Apa Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anggaran Tenaga Kerja ?
1.2.6.                Bagaimana Persiapan-persiapan dalam Penyusunan Anggaran
Tenaga Kerja ?
1.2.7.                Bagaimana Perencanaan dan Pengawasan dari Anggaran Tenaga
Kerja ?


1.3.                      Tujuan Penulisan
1.3.1.                Mengetahui pengertian anggaran operasional.
1.3.2.                Mengetahi sistematika penyusunan anggaran operasional.
1.3.3.                Mengetahui Perencanaan Tenaga Kerja.
1.3.4.                Mengetahui Jenis-jenis Tenaga Kerja.
1.3.5.                Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran tenaga
kerja.
1.3.6.                Mengetahui perhitungan Persiapan-persiapan dalam Penyusunan
Anggaran Tenaga Kerja.
1.3.7.                Mengetahui Perencanaan dan Pengawasan dari Anggaran Tenaga
Kerja.







BAB II
PEMBAHASAN
2.1.            Pengertian Anggaran Operasional
Anggaran parsial adalah anggaran yang terdiri dari satu jenis atau kelompok kegiatan tertentu saja, misalnya anggara penjualan saja, anggaran biaya pemasaran saja, anggaran biaya administrasi saja, dan sebagainya. Sedangkan anggaran komprehensif adalah keseluruhan anggaran yang terdiri dari gabungan anggaran-anggaran parsial didalam suatu periode waktu tertentu. Pada dasarnya anggaran komprehensif merupakan gabungan dari anggaran pendapatan, anggaran biaya dan anggaran laba serta anggaran keuangan. Anggaran komprehensif menggambarkan keseluruhan rencana yang ingin dicapai perusahaan didalam kurun waktu tertentu.
Salah satu bagian yang penting dan berpengaruh terhadap anggaran komprehensif yang akan disusun perusahaan adalah anggaran operasional. Karena anggaran operasional merupakan fase awal dari keseluruhan anggaran yang akan disusun suatu perusahaan.
Anggaran operasional mencakup semua aktivitas utama perusahaan didalam proses menghasilkan produk dan penjualan produk yang menjadi sumber utama pendapatan perusahaan.
Anggaran operasional mencakup :
1.      Anggaran penjualan
2.      Anggaran produksi
3.      Anggaran pembelian bahan
4.      Anggaran biaya tenaga kerja
5.      Anggaran biaya overhad
6.      Anggaran biaya pemasan
7.      Anggaran biaya admistrasi dan umum
8.      Anggaran laba

Anggaran operasional merupakan bentuk sederhana dari anggaran komprehensif. Anggaran operasional merupakan miniatur dari anggaran komprehensif. Karena anggaran operasional mencakup seluruh aktivitas utama perusahaan didalam suatu periode tertentu. Dan diantara satu anggaran parsial dengan anggaran parsial lainnya memiliki keterkaitan.
Karena anggaran harus disusun secara sistematis, agar pihak pembaca anggaran lebih mudah mengerti dan agar terlihat hubungan antara satu bagian anggaran dengan bagian anggaran yang lain, maka di dalam menyusun anggaran harus mengikuti serangkaian langkah yang harus dilewati secara bertahap agar lebih mudah dan jelas.

2.2.            Penyusunan anggaran operasional
Berdasarkan data penjualan tahun-tahun sebelumnya dan mempertimbangkan berbagai factor eksternal yang relevan, seperti tingkat inflasi, daya beli masyarakat, perubahan selera konsumen dan sebagainya, perusahaan membuat ramalan penjualan. Ramalan penjualan tersebut berupa serangkaian prediksi penjualan di masa mendatang dan pangsa pasar yang dapat diambil oleh perusahaan dengan mempertimbangkan factor-faktor internal dan eksternal. Berdasarkan ramalan penjualan tersebut, peruhaan menyusun anggaran berupa volume penjualan yang ingin dicapai perusahaan di dalam suatu kurun waktu tertentu untuk setiap jenis produk yang dihasilkan, untuk setiap wilayah pemasaran, untuk setiap kelompok konsumen dan untuk setiap wiraniaga yang dimiliki perusahaan.
Berdasarkan anggaran penjualan tersebut, perusahaan dapat menyusun anggaran produksi di dalam suatu periode tertentu. Anggaran produksi tersebut berupa volume barang yang harus dihasilkan perusahaan di dalam suatu periode tertentu. Untuk menentukan jumlah barang yang akan dihasilkan di dalam suatu periode tertentu, di samping mengacu pada volume penjualan, perusahaan harus memperhatikan jumlah persediaan barang pada awal dan akhir periode tersebut.
Dari anggaran produksi, perusahaan dapat menentukan jumlah bahan baku yang dibutuhkan untuk periode tersebut. Jika jumlah bahan baku yang dibutuhkan di dalam suatu periode tersebut dikaitkan dengan jumlah persediaan bahan baku pada awal dan akhir periode akuntansi, maka dapat disusun anggaran pembelian bahan baku. Berdasarkan anggaran produksi tersebut, dapat disusun anggaran biaya tenaga kerja dan anggaran biaya overhead pabrik.
Walaupun tidak terlalu terkait secara langsung, anggaran biaya operasi/komersial biasanya disusun setelah anggaran penjualan dan produksi disusun. Anggaran biaya pemasaran biasanya disusun berdasarkan volume produk yang akan dijual. Karena untuk menentukan besarnya biaya promosi, biaya angkut penjualan dan sebagainya, sangat dipengaruhi oleh besarnya volume penjualan yang dicapai. Sedangkan biaya admistrasi dan umum, tidak terkait secara langsung dengan besarnya volume penjualan atau produksi. Hanya biasanya, semakin besar volume produksi dan volume penjualan akan cenderung mengakibatkan semakin besar pula volume pekerjaan dan biaya admistratif dan umum.
Berdasarkan gabungan dari kesuluruhan anggaran penjualan, anggaran produksi, anggaran biaya bahan baku, anggaran biaya tenaga kerja, anggaran biaya overhead dan anggaran biaya komersial tersebut dapat dihasilkan anggaran laba. Penyusunan dan pencapaian laba ini merupakan tujuan utama dari didirikannya suatu perusahaan.
Tahap akhir dari penyusunan anggaran adalah dengan disusunya anggaran keuangan, yaitu target pencapaian kekayaan perusahaan beserta sumber-sumbernya pada suatu periode tertentu. Anggaran investasi disusun perusahaan berdasarkan rencana perusahaan dalam jangka panjang. Anggaran investasi disusun mencakup rencana investasi perusahaan di dalam periode mendatang beserta sumber pembiayaan.
Dari gabungan anggaran penjualan, anggaran produksi, anggaran biaya operasi dan anggaran investasi, dapat disusun anggaran kas, yang merupakan rencana penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan di dalam suatu periode tertentu.
Dan pada tahap akhir dapat disusun anggaran neraca yang merupakan taksiran kondisi keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu berdasarkan gabungan dari berbagai macam anggaran yang telah disusun sebelumnya.
2.3.            Perencanaan tenaga kerja
Pada setiap perusahaan tentu ada biaya yang dikenakan untuk keperluan buruh. Buruh atau tenaga kerja, merupakan salah satu faktor produksi yang utama dan selalu ada dalam perusahaan, meskipun pada perusahaan tersebut sudah digunakan mesin-mesin. Mesin yang bekerja dalam perusahaan tentu saja perlu ditangani oleh tenaga manusia, meskipun mesin-mesin zaman sekarang sudah banyak yang bersifat otomatis. Tenaga kerja yang bekerja di pabrik dikelompokkan menjadi dua yaitu tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung.
Tenaga kerja langsung pengertiannya pada prinsipnya terbatas pada tenaga kerja di pabrik yang secara langsung terlibat dalam proses produksi dan biayanya dikaitkan pada biaya produksi atau pada barang yang dihasilkan. Sedangkan tenaga kerja tidak langsung pengertiannya terbatas pada tenaga kerja di pabrik yang tidak terlibat secara langsung pada proses produksi dan biayanya dikaitkan pada biaya overhead pabrik.
Anggaran tenaga kerja, seperti halnya anggaran bahan mentah hanya merencanakan unsur tenaga kerja langsung. Dan seperti halnya anggaran produksi yang telah disusun sebelumnya. Perencanaan tenaga kerja meliputi aspek yang luas sekali, sehingga perlu diperhitungkan secara matang oleh pimpinan perusahaan.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan tenaga kerja antara lain adalah :
1.      Kebutuhan tenaga kerja
2.      Pencarian atau penarikan tenaga kerja
3.      Latihan bagi tenaga kerja baru
4.      Evaluasi dan spesifikasi pekerjaan bagi tenaga kerja
5.      Gaji dan upah yang harus diterima oleh tenaga kerja
6.      Pengawasan tenaga kerja
Berbagai cara dilakukan oleh perusahaan untuk mencari dan mendapatkan tenaga kerja yang baik dan terampil, yang cocok untuk bidang pekerjaannya. Tenaga kerja yang tidak mempunyai keterampilan khusus umumnya mudah dicari di Indonesia saat ini. Tetapi untuk mendapatkan tenaga kerja yang baik pada salah satu bidang khusus, seperti tanaga teknis dan manajerial harus diperoleh secara khusus pula. Untuk mereka perusahaan tidak segan-segan menyediakan perangsang berupa gaji yang besar dan fasilitas yang lengkap. Beberapa perusahaan besar bahkan mendapatkannya dengan melalui kaderisasi, umpamanya dengan penawaran beasiswa yang mengikat. Karena itu biaya tenaga kerja sebetulnya tidak hanya timbul pada saat tenaga itu digunakan, akan tetapi sudah ada sebelum tenaga itu siap.
Seleksi tenaga kerja baru dilakukan dengan berbagai cara. Selain diadakan ujian tertulis dan lisan, juga diadakan psychotest untuk mengetahui secara lebih pasti siapa yang paling cocok untuk bidang pekerjaan yang tersedia. Tujuan seleksi tenaga kerja bukan untuk mencari orang-orang yang berpengalaman, melainkan mencari orang-orang yang cocok dan mempunyai potensi untuk berkembang. Tenaga kerja yang sudah berpengalaman selain mahal harganya juga ada kemungkinan bahwa pengalaman yang dimiliki justru tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada. Tenaga kerja yang memperoleh pengalaman dari pekerjaan merupakan suatu aktiva bagi perusahaan.
Latihan (training) biasanya diberikan kepada para tenaga kerja baru. Latihan ini dapat diberikan oleh pihak perusahaan sendiri dan dapat pula diberikan oleh lembaga khusus yang memberikannya secara bersama-sama dengan para tenaga kerja baru dari perusahaan lain. Latihan dapat dilakukan ditempat khusus (di kelas) tetapi dapat pula dilakukan di tempat bekerja. Latihan yang dilakukan di tempat bekerja dan smabil bekerja dikatakan sebagai on the job training.
Sesudah selesai masa latihan, maka tenaga kerja siap untuk di tempatkan. Potensi masing-masing tenaga kerja dan jabatan yang tersedia bermacam-macam sehingga perlu adanya evaluasi dan spesifikasi pekerjaan bagi mereka.
Semua aspek diatas tidak hanya berlaku pada satu timgkatan saja, tetapi pada semua tingkat jabatan dalam perusahaan. Sehingga jelaslah bahwa biaya tenaga kerja merupakan komponen yang cukup besar bagi harga pokok barang yang dihasilkan. Kesalahan para pimpinan dalam hal tenaga kerja akan mengakibatkan pengaruh terhadap harga barang yang dihasilkan, sehingga berpengaruh pula terhadap posisi perusahaan dalam persaingan.


2.4.      Jenis-Jenis Tenaga Kerja
Untuk kepentingan penyusunan anggaran dan perhitungan harga produk, maka biasanya tenaga kerja dibedakan menjadi:
2.4.1.       Tenaga kerja langsung
Tenaga kerja langsung pengertiannya terbatas pada tenaga kerja di pabrik yang secara langsung terlibat pada proses produksi dan biayanya dikaitkan pada biaya produksi atau pada barang yang dihasilkan. Sedangkan tenaga kerja tidak langsung pengertiannya terbatas pada tenaga kerja di pabrik yang tidak terlibat secara langsung pada proses produksi dan biayanya dikaitkan pada biaya overhead pabrik. Tenaga kerja langsung memiliki sifat :
1.      Besar kecilnya biaya untuk tenaga kerja jenis ini berhubungan secara langsung dengan tingkat kegiatan produksi.
2.      Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja jenis ini merupakan biaya variabel.
3.      Umumnya dikatakan bahwa tenaga kerja jenis ini merupakan tenaga kerja yang kegiatannya langsung dapat dihubungkan dengan produk akhir (terutama dalam penentuan harga pokok).
Yang dikategorikan sebagai tenaga kerja langsung antara lain adalah para buruh pabrik yang ikut serta dalam kegiatan proses produksi dari bahan mentah sampai berbentuk barang jadi.
2.4.2.       Tenaga kerja tidak langsung
Sedangkan tenaga kerja tidak langsung mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
1.                      Besar kecilnya biaya untuk tenaga kerja jenis ini tidak berhubungan                       secara langsung dengan tingkat kegiatan produksi.
2.                      Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja jenis ini merupakan biaya                     yang semi variabel. Artinya biaya-biaya yang mengalami perubahan                tapi tidak secara sebanding dengan perubahan tingkat kegiatan                                 produksi.
3.                      Tempat bekerja dari tenaga kerja jenis ini tidak harus selalu dalam                          pabrik, tetapi dapat di luar pabrik.
Apabila tenaga kerja jenis ini bekerja dalam lingkungan pabrik maka biaya yang dikeluarkan untuk mereka dikelompokkan dalam penganggaran biaya pabrik
Dalam penyusunan anggaran tenaga kerja terdapat manfaat dan rencana sebagai berikut :
1.      Penggunaan tenaga kerja secara efisien.
2.      Pengeluaran\biaya tenaga kerja dapat diatur lebih efisien.
3.      Harga pokok barang dapat dihitung dengan tepat.

.
2.5.       Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anggaran Tenaga Kerja
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan anggaran tenaga kerja adalah :
1.      Kebutuhan tenaga kerja
2.      Pencarian dan penarikan tenaga kerja
3.      Latihan bagi tenaga kerja baru
4.      Evaluasi dan spesifikasi pekerjaan bagi pera tenaga kerja
5.      Gaji dan upah yang harus diterima oleh tenaga kerja
6.      Pengawasan tenaga kerja

Berbagai cara dilakukan oleh perusahaan untuk mencari dan mendapatkan tenaga kerja yang baik dan terampil, yang cocok untuk bidang pekerjaannya. Tenaga kerja yang tidak mempunyai keterampilan khusus pada umumnya mudah dicari di Indonesia saat ini. Tetapi untuk mendapatkan tenaga kerja yang baik pada salah satu bidang khusus seperti tenaga teknis dan managerial harus diperoleh secara khusus pula. Untuk mereka perusahaan tidak segan-segan menyediakan perangsang berupa gaji yang besar dan fasilitas yang lengkap. Beberapa perusahaan besar bahkan mendapatkannya melalui kaderisasi, umpamanya dengan penawaran beasiswa yang mengikat. Karena itu biaya tenaga kerja sebetulnya tidak hanya timbul pada saat tenaga kerja itu digunakan, akan tetapi sudah ada sebelum tenaga kerja itu siap.
Seleksi tenaga kerja baru dilakukan dengan berbagai cara. Selain diadakan ujian tertulis dan lisan juga diadakan psychotest untuk mengetahui secara lebih pasti siapa yang paling cocok untuk bidang pekerjaan yang tersedia. Tujuan seleksi tenaga kerja bukan untk mencari orang-orang yang berpengalaman, melainkan mencari orang-orang yang cocok dan mempunyai potensi untuk berkembang. Tenaga kerja yang sudah berpengalaman selain mahal harganya juga ada kemungkinan bahwa pengalaman yang dimiliki justru tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Tenaga kerja yang memperoleh pengalaman dari pekerjaan merupakan suatu aktiva bagi perusahaan.
Latihan(training) biasanya diberikan pada para tenaga kerja yang baru. Latihan ini dapat diberikan oleh perusahaan sendiri dan dapat pula diberikan oleh lembaga khusus yang memberikannya secara bersama-sama dengan para tenaga kerja baru diperusahaan lain. Latihan dapat dilakukan ditempat khusus tetapi dapat pula dilakukan di tempat bekerja. Latihan yang dilakukan ditempat bekerja sambil bekerja dikatakan sebagai on the job training.
Sesudah selesai masa latihan, maka tenaga kerja siapa untuk ditempatkan. Potensi masing-masing tenaga kerja dan jabatan yang tersedia bermacam-macam sehingga perlu adanya evaluasi dan spesifikasi pekerjaan bagi mereka.
Semua aspek diatas tidak hanya berlaku bagi satu tingkatan saja, tetapi pada semua tingkatan jabatan dalam perusahaan. Sehingga jelaslah bahwa biaya tenaga kerja merupakan komponen yang cukup besar bagi harga pokok barang yang dihasilkan. Kesalahan para pimpinan dalam hal tenaga kerja akan mengakibatkan pengaruh terhadap harga barang yang dihasilkan, sehingga berpengaruh pula terhadap posisi perusahaan dalam persaingan.



2.6.             Persiapan-persiapan dalam penyusunan anggaran tenaga kerja
Sebelum menyusun anggaran tenaga kerja perlu ditentukan terlebih dahulu dasar satuan utama yang digunakanuntuk menghitungnya. Kerapkali ditemui dalam praktek yakni satuan hitung atas dasar jam buruh langsung (direct labor hour) dan biaya buruh langsung (direct labor cost). Dalam persiapan penyusunan anggaran ini terlebih dahulu dibuat manning table.
Manning table, merupakan daftar kebutuhan tenaga kerja yang menjelaskan:
1.      Jenis atau kualifikasi tenaga kerja yang dibuthkan.
2.      Jumlah masing-masing jenis tenaga kerja tersebut pada berbagai tingkat kegiatan.
3.      Bagian-bagian yang membutuhkannya.
Manning table disusun sebagai hasil kerjanya langsung masing-masing kepala bagian. Perkiraan ini dapat dilakukan dengan berdasarkan pengalaman-pengalaman pada waktu-waktu yang lalu, dengan berpedoman pada tingkat kegiatan perusahaan. Setelah itu lalu dihitung jam buruh langsung untuk masing-masing jenis barang yang dihasilkan atau masing-masing bagian tempat mereka bekerja. Jam buruh langsung ini dapat dihitung dengan berbagai cara, diantaranya dengan analisa gerak dan waktu.
Analisa gerak yaitu pengamatan terhadap gerakan-gerakan yang dilakukan dalam rangka proses produksi satu jenis barang tertentu. Sedangkan analisa waktu yaitu perhitungan terhadap waktu yang dibutuhkan untuk setiap gerakan yang dilakukan dalam rangka proses produksi. Sebagai hasil dilakukannya analisa gerak dan waktu ini akan diperoleh waktu standar yang diperlukan untuk menyelesaikan satu unit barang tetentu, yang dinyatakan dengan DLH.
Setelah dihitung jam buruh langsung untuk masing-masing jenis barang, kemudian dibuat perkiraan tentang tingkat upah rata-rata (average wage rate) untuk tahun anggaran yang bersangkutan. Cara yang termudah untuk mencari tingkat upah rata-rata per orang per jam buruh langsung adalah dengan membagi jumlah rupiah yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja langsung dengan jumlah jam tenaga kerja langsung yang diperlukan.

Contoh :
            Dalam sebuah perusahaan, tenaga kerja langsung pada pabrik digolongkan menjadi 3 tingkatan yakni golongan I, II, III.
Upah per jam buruh langsung masing-masing di golongkan adalah :
Golongan        I           = Rp 150,00 per orang/DLH
                        II         = Rp 200,00 per orang/DLH
                        III        = Rp 250,00 per orang/DLH
Jumlah masing-masing golongan adalah :
Golongan        I           = 50 orang
                        II         = 20 orang
                        III        =   5 orang
            Jumlah             = 75 orang
Tingkat upah rata-rata tenaga kerja langsung perusahaan tersebut (per orang per DLH) dapat dihitung sebagai berikut :
Golongan
Tingkat upah per jam (Rp)
Jumlah (orang)
Jumlah DLH
Jumlah (Rp)
I
II
III
150,00
200,00
250,00
50
20
  5
100
750.000,00
400.000,00
125.000,00


75
100
1.275.000,00

Tingkat upah rata-rata             =          1.275.000        = Rp 170,00 per DLH
                                                                7.500

Catatan :
            Perlu diperhatikan bahwa tingkat upah rata-rata dapat berubah apabila terjadi perubahan ratio dalam penggunaan tenaga kerja, seperti :
1.      Ratio kuantitas masing-masing golongan tenaga kerja
2.      Ratio tingkat upah masing-masing golongan tenaga kerja
Misalnya :
Data historis (tahun 2016) menunjukkan :


Golongan
Jumlah (orang)
Tingkat upah per jam (Rp)
Jumlah jam
Jumlah (Rp)
I
II
300
200
200,00
300,00
100
100
6.000.000,00
6.000.000,00

500

100
12.000.000,00

Tingkat upah rata-rata = Rp 12.000.000,00/50.000 = Rp 240,00
Pada tahun 2016, akan diadakan kenaikan pangkat 50 orang golongan I ke golongan II. Sehingga pada tahun 2017 terjadi perubahan ratio kuantitas masing-masing golongan yakni :

1983
1984
Golongan I
Golongan II
300
200
250
250

500
500

            Akibatnya tahun 2017 akan terjadi perubahan tingkat upah, menjadi Rp 250,00 per orang per DLH.
Perhitungan sebagai berikut :
Golongan
Jumlah (orang)
Tingkat upah per jam (Rp)
Jumlah jam
Jumlah (Rp)
I
II
250
250
200,00
300,00
100
100
5.000.000,00
7.500.000,00

500

100
12.500.000,00

Tingkat upah rata-rata = Rp 12.500.000,00/50.000 = Rp 250,00

2.7.             Fungsi Perencanaan dan Pengawasan dari Anggaran Tenaga Kerja
Penyusunan secara baik dari anggaran tenaga kerja dapat mendatangkan beberapa manfaat bagi perusahaan, seperti :
1.      Penggunaan tenaga kerja lebih efisien karena rencana yang matang.
2.      Pengeluaran/biaya tenaga kerja dapat direncanakan dan diatur secara lebih efisien.
3.      Harga pokok barang dapat dihitung secara tepat.
4.      Dipakai sebagai alat pengawasan biaya tenaga kerja.
Biaya tenaga kerja merupakan salah satu jenis biaya yang dapat menjadi masalah bagi perusahaan. Pengawasan biaya tenaga kerja dapat dibantu dengan adanya pendekatan yang baik terhadap para buruh, sehingga mereka dapat bekerja secara stabil sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Pengawasan terhadap para buruh, (di pabrik) dapat diserahkan pada seorang mandor pengawas atau suvervisor. Seorang suvervisor bertugas mengawasi dan melaporkan apa yang dilakukan oleh para buruh yang menjadi tanggung jawabnya. Seorang suvervisor perlu membuat laporan yang bersifat harian atau bulanan. Pada laporan yang bersifat harian, apa yang terjadi pada hari itu dibandingkan dengan rencana untuk hari itu.
Umpamanya :
Rencana
            Akan diprodusir bulan Januari            2.200
            Standar jam buruh per unit barang      2
            Tingkat upah rata-rata per jam            Rp 50,00
Realisasi
            Unit yang di produsir                          2.000
            Jam buruh selama bulan Januari          4.250
            Biaya buruh bulan Januari                   Rp 218.025,00

Laporan pelaksanaan
Januari 19A

Rencana
Realisasi
Penyimpanan
Jumlah
Persentase
Unit produksi
Bahan mentah
Tenaga kerja :
Jam
Upah rata-rata
Biaya
2.200


4.000
Rp 50,00
Rp 200.000,00
2.000


4.250
Rp 51,30
Rp 218.025,00
200


250
Rp 1,30
Rp 18.025,00
9


6,25
2,6
9

Agar lebih jelas ditinjau sebuah persoalan yang menyangkut sebuah perusahaan lain.
            Perusahaan ini melakukan pengawasan serta analisa sebab-sebab penyimpangan secara bulanan atas berbagai target penjualan dan tingkat biaya. Masalah yang sekarang dihadapi khususnya menyangkut biaya tenaga kerja.
Data yang tersedia adalah sebagai berikut :
Data anggaran
Produksi bulan Februari sebesar 16.000 unit dengan standar pemakaian tenaga kerja (Labor Usage Rate) sebesar 2,5 DLH per unit barang. Dengan upah sebesar Rp 100,00 setiap jam kerja.
Data  realisai :
Produksi bulan Februari hanya 15.000 unit yang menghabiskan 37.000 DLH dan upah yang dibayarkan sebesar Rp 4.070.000,00.
Dari kedua data diatas dapat dibuat laporan pelaksanaan dan analisa variance sebagai berikut:

Laporan pelaksanaan
Februari 19A

Rencana
Disesuaikan
Realisasi
Penyimpangan
Jumlah
Persentase
Produksi
Standar pemakaian TK
Jumlah DLH
Upah/DLH
Jumlah upah
16.000

2,5 DLH
40.000 DLH
Rp 100,00
Rp 4.000.000,00
15.000

2,5 DLH
37.5000 DLH
Rp 100,00
Rp 3.750.000,00
15.000

2,467 DLH
37.000 DLH
Rp 110,00
Rp 4.070.000,00
-

0,033 DLH
+500 DLH
-Rp 10,00
-Rp 320.000,00
-

1 %
2%
10%
8%








Analisa variance :
Penyimpangan efisiensi           = (37.500 – 37.000) x 100      = + Rp 50,00
Penyimpangan upah                = (Rp 100,00 – 110) x 37.000 = - Rp 370.000,00
                                                Total variance                          = - Rp 320.000,00

Penyimpangan efisiensi merupakan hasil kali antara upah dianggarkan dengan selisih antara jumlah jam anggaran dan jumlah jam riil.
Price variance merupakan hasil kali antara jumlah jam riil dengan selisih antara upah dianggarkan dan upah riil.
Anggaran tenaga kerja merupakan perencanaan khusus tentang jam buruh langsung (DLH) dan biaya buruh langsung (DLC) menurut waktu dan jenis barang yang diprodusir. Apabila memungkinkan anggaran tenaga kerja dapat dibuat secara terpisah, yakni anggaran jam buruh langsug dan anggaran biaya tenaga kerja.
Contoh :
PT. Mekarsari mempunyai 3 bagian produksi, yakni bagian I, II, dan III. Ada dua macam barang yang diprodusir, yakni X danY.
Barang X diprodusir melalui ketiga bagian, sedangkan narang Y hanya melalui bagian I dan III saja.
Rencana jam buruh per unit barang adalah :


Bagian
DLH per unit barang
X
Y
I
II
III
0,4
0,2
0,4
0,2
-
0,2

Rencana tingkat upah rata-rata adalah :
Bagian
Tingkat upah per DLH
I
II
III
Rp 20,00
15,00
10,00

Sedangkan rencana tingkat produksi tahun 2016 adalah sebagai berikut :
Bulaan/kuartal
Barang
X
Y
Januari
Februari
Maret
Kuartal II
Kuartal III
Kuartal IV
70.000
80.000
80.000
240.000
230.000
260.000
34.000
36.000
38.000
140.000
127.000
145.000
JUMLAH
960.000
520.000

PT. Mekarsari menyusun 2 sub anggaran tenaga kerja, yakni:
1.      Anggaran yang khusus merencanakan biaya tenaga keerja langsung.
2.      Anggaran yang merencanakan jam buruh langsung (DLH) saja.



2.7.1.                  Anggaran biaya tenaga kerja langsung
Anggaran ini merupakan bagian dari anggaran tenaga kerja. Secara terperinci pada anggaran ini harus dicantumkan hal-hal sebagai berikut :
1.                   Jumlah barang yang diprodusir, yang dilihat dari anggaran produksi.
2.                   Jam buruh langsung (DLH) yang di perlukan untuk mengerjakan 1 unit                   barang.
3.                   Tingkat upah rata-rata per jam buruh langsung.
4.                   Jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan.
5.                   Waktu produksi barang (bulan atau kuartal).
Sehingga anggaran biaya tenaga kerja bagi PT. Mekarsari untuk tahun 2016 adalah :
PT. Mekarsari
Anggaran biaya tenaga kerja
2016

Bulan kuartal bagian
Bagian X
Bagian Y

Jumlah biaya tenaga kerja
produksi
DLH per unit
Total DLH
TK upah
jumlah
produksi
DLH per unit
Total DLH
TK upah
Jumlah
Januari
Bagian I
Bagian II
Bagian III

70.000
70.000
70.000

0,4
0,2
0,4

28.000
14.000
28.000

20
15
10

560.000
210.000
280.000

34.000
-
34.000

0,2
-
0,2

6.800
-
6.800

20
-
10

136.000
-
68.000

696.000
210.000
348.000
JUMLAH


70.000

1.050.000


13.600

204.000
1.254.000
Februari
Bagian I
Bagian II
Bagian III

80.000
80.000
80.000

0,4
0,2
0,4

32.000
16.000
32.000

20
15
10

640.000
240.000
320.000

36.000
-
36.000

0,2
-
0,2

7.200
-
7.200

20
-
10

144.000
-
72.000

784.000
240.000
392.000
JUMLAH


80.000

1.200.000


14.400

216.000
1.416.000
Maret
Bagian I
Bagian II
Bagian III

80.000
80.000
80.000

0,4
0,2
0,4

32.000
16.000
32.000

20
15
10

640.000
240.000
320.000

38.000
-
38.000

0,2
-
0,2

7.600
-
7.600

20
-
10

152.000
-
70.000

792.000
240.000
396.000
JUMLAH


80.000

1.200.000


15.200

228.000
1.428.000
Kuartal II
Bagian I
Bagian II
Bagian III

240.000
240.000
240.000

0,4
0,2
0,4

96.000
48.000
96.000

20
15
10

1.920.000
720.000
960.000

140.000
-
140.000

0,2
-
0,2

28.000
-
28.000

20
-
10

560.000
-
280.000

2.480.000
720.000
1.240.000



240.000

3.600.000


56.000

840.000
4.440.000
Kuartal III
Bagian I
Bagian II
Bagian III

230.000
230.000
230.000

0,4
0,2
0,4

92.000
46.000
92.000

20
15
10

1.840.000
690.000
920.000

127.000
-
127.000

0,2
-
0,2

25.400
-
25.400

20
-
10

508.000
-
254.000

2.348.000
690.000
1.174.000
JUMLAH


230.000

3.450.000


50.800

762.000
4.212.000
Kuartal IV
Bagian I
Bagian II
Bagian III

260.000
260.000
260.000

0,4
0,2
0,4

104.000
52.000
104.000

20
15
10

2.080.000
780.000
1.040.000

145.000
-
145.000

0,2
-
0,2

29.000
-
29.000

20
-
10

580.000
-
290.000

2.660.000
780.000
1.330.000
JUMLAH


260.000

3.900.000


58.000

870.000
4.770.000
Jumlah 1 tahun
960.000

960.000

14.400.000


208.000

3.120.000
17.520.000





2.7.2.      Anggaran jam buruh langsung
Anggaran ini merupakanbagian lain dari anggaran tenaga kerja. Secara terperinci pada anggaran ini harus di cantumkan hal-hal sebagai berikut :
1.      Jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan.
2.      Bagian-bagian yang turut dalam proses produksi.
3.      Jumlah DLH yang diperlukan untuk tiap jenis barang.
4.      Waktu produksi barang (bulan atau kuartal).
Sehingga jam buruh langsung PT. Mekarsari intuk tahun 2016 adalah :
PT. Mekarsari
Anggaran jam buruh langsung
Tahun 2016

Bulan/Kuartal
Bagian I
Bagian II
Bagiam III

Jumlah
X
Y
Jumlah
X
Y
Jumlah
X
Y
Jumlah
Januari
Februari
Maret
Kuartal II
Kuartal III
Kuartal IV
28.000
32.000
32.000
96.000
92.000
104.000
6.800
7.200
7.600
28.000
25.400
29.000
34.800
39.200
39.600
124.000
117.400
133.000
14.000
16.000
16.000
48.000
46.000
52.000
-
-
-
-
-
-
14.000
16.000
16.000
48.000
46.000
52.000
28.000
32.000
32.000
96.000
92.000
104.000
6.800
7.200
7.600
28.000
25.400
29.000
34.800
39.200
39.600
124.000
117.000
133.000
83.600
94.400
95.200
296.000
280.000
318.000
JUMLAH
394.000
104.000
488.000
192.000
-
192.000
384.000
104.000
488.000
1.168.000

Contoh :
Penyusunan anggaran tenaga kerja
(kasus pabrik rokok “Gudang Garam” )
Sebagai kelanjutan dari kasus pabrik rokok Gudang Garam, pada bagian ini secara khusus dibahas tentang perencanaan tenaga kerja langsung.
Bagian produksi/pengolahan, merupakan tempat bekerjanya tenaga kerja langsung yang terdiri atas :
1.      Tukang linting dengan tangan                                    854 orang
2.      Tukang potong/gunting dengan tangan          671 orang
3.      Tukang linting dan gunting dengan mesin      10 orang
4.      Tukang longsong bungkus rokok                    151 orang
5.      Tukang mengepak rokok                                 442 orang
Jumlah             =          2.128 orang

Pabrik rokok Gudang Garam, tenaga kerja dipilih sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan diutamakan yang sudah berpengalaman. Lebih dari 90% para tenaga kerja berasal dari luar kota. Bagi buruh harian diperhitungkan jam kerja sebanyak 7 jam per hari atau 40 jam per minggu.
Sistem pengupahan pada pabrik rokok Gudang Garam di sesuaikan dengan perjanjian antara SBRI/FBSI dengan PUSPI dan OPS rokok kretek (atau : antara wakil dari pihak buruh dengan persatuan pengusaha rokok kretek) yakni sebagai berikut :
60 % sebagai upah harian
20 % sebagai upah makan
20 %sebagai upah hadir
Bagi tukang linting dan gunting yang menggunakan mesin dipakai sistem upah hariah, yakni rata-rata Rp 500,00 per hari. Bagi tukang lainnya adalah cara borongan, yakni sebagai berikut:
1.      Tukang linting dengan tangan :
Upahnya sebesar Rp 115,00 per 1.000 batang rokok, dengan maksimum 3.000 batang ditambah upah lembur sebesar 50 % untuk setiap 1.000 batang dari tarif tersebut.
2.      Tukang gunting dengan tangan :
Cara pengupahan dan besarnya sama dengan tukang linting.
3.      Tukang longsong :
Upah sebesar 60% setiap 1.000 longsong dengan maksimum 3.000 longsong.bila mencapai lebih dari 3.000 ditambah upah lembur sebesar 50% untuk tiap 1.000 longsong dari tarif upah tersebut.
4.      Tukang pack :
Upahnya sebesar Rp 74,00 untuk setiap bal, dengan maksimum 3 bal. Bila mencapai lebih dari 3 bal, ditambah upah lembur 50% untuk setiap bal dari tarif upah tersebut.
Agar lebih jelas, dapat dilihat tabel upah sebagai berikut :
Tabel Pengupahan

Jenis tenaga kerja
Upah borongan
Upah lembur
Jumlah minimum

Maksimum

Upah (Rp)

keterangan

persentase
Tukang linting
Tukang gunting
Tukang longsong
Tukang pack
1.000 bt
1.000 bt
1.000 lgs
1 bal
3.000 bt
3.000 bt
3.000 lgs
3 bal
115,00
115,00
60,00
74,00
˂ 3.000 per 1.000
˂  3.000 per 1.000
˂  3.000 per 1.000
˂  3 per 1 bal
50
50
50
50

Selain upah tersebut masih diberi insentif lain yang diberi secara insidentil, berapa “upah sangon roko”sebesar (per hari, berdasarkan daftar hadir) :
1.      Untuk tukang linting                           Rp 25,00
2.      Untuk tukang gunting                               20,00
3.      Untuk tukang longsong                            20,00
4.      Untuk tukang pack                                   25,00
Disamping itu setiap tahun masih pula menerima tunjangan hari raya. Pada tahun 2016 dibuat pula anggaran biaya tenaga kerja pada pabrik rokok ini. Anggaran biaya tenaga kerja yang dibuat, tentu saja berdasarkan pada anggaran produksi yang telah dibuat sebelumnya yakni :
Pabrik rokok Gudang Garam
Anggaran produksi
2016

Penjualan (bal)
Persediaan akhir (bal)
Jumlah (bal)
Persediaan awal (bal)
Produksi
Isi 12 batang
Kuartal I
Kuartal II
Kuartal III
Kuartal IV

4.457
5.686
6.237
5.542

317
281
245
209

4.774
5.967
6.482
5.751

353
317
281
245

4.425
5.650
6.201
5.506
JUMLAH
21.922
209
22.131
353
21.778
Isi 10 batang
Kuartal I
Kuartal II
Kuartal III
Kuartal IV

68.335
87.192
95.629
84.974

4.859
4.310
3.759
3.210

73.194
91.502
99.288
88.184

5.409
4.859
4.310
3.759

67.785
86.643
95.078
84.425
Jumlah
336.130
3.210
339.340
5.409
333.931
Isi 3 batang
Kuartal I
Kuartal II
Kuartal III
Kuartal IV

1.485
1.896
2.079
1.847

106
94
82
70

1.591
1.990
2.161
1.917

117
106
94
82

1.474
1.884
2.067
1.835
Jumlah
7.307
70
7.377
117
7.260

Dalam pembuatan anggaran tenaga kerja, perlu diestimasi standar waktu dan tingkat upah per jam untuk masing-masing kegiatan/bagian dengan sebaik-baiknya, karena anggaran tenaga kerja bukanlah hanya merupakan ikhtisar, akan tetapi hasilnya adalah untuk dijadikan rencana operasional dan alat pengawasan terhadap efisiensi kerja daripada tenaga kerja.






BAB III
PENUTUP
3.1.            Kesimpulan
Anggaran adalah suatu rencana terinci yang dinyatakan secara formal dalam ukuran kuantatif, biasanya dalam satuan uang, untuk menunjukan perolehan dan penggunaan sumber-sumber suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu biasanya satu tahun.
Anggaran operasional adalah rencana kerja perusahaan yang mencakup semua kegiatan utama perusahaan dalam memperoleh pendapatan di dalam suatu periode tertentu.
Anggaran operasional yang mempunyai unsur aktivitas tenaga kerja sehingga mempunyai hubungan terhadap perhitungan untuk anggaran biaya tenaga kerja yang dilakukan oleh perusahaan agar penggunaan tenaga kerja lebih efisien karena rencana yang matang, pengeluaran/biaya tenaga kerja dapat direncanakan dan diatur secara lebih efisien, harga pokok barang dapat dihitung secara tepat, dan dipakai sebagai alat pengawasan biaya tenaga kerja.
3.2.            Saran
Makalah ini sangat bermanfaat untuk diterapkan pada kegiatan keuangan perusahaan karena         cara perhitungan yang bagus untuk pengambilan keputusan tentunya terhadap suatu anggaran biaya tenaga kerja pada perusahaan.
Penulis menyadari bahwa makalah kami ini masih jauh dari kata sempurna, tentunya masih terdapat kekurangan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca terhadap segala sesuatu yang kurang pada makalah ini. Agar menjadi pembejaran bagi penulis supaya kedepan penulis dapat menyelesaikan makalah dalam bentuk lebih baik lagi.



DAFTAR PUSTAKA
Emil, M. Salim Nugraha, SE, ME, 2017, Penganggaran Perusahaan untuk kalangan sendiri, Buntok, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Dahani Dahanai Buntok.
Adisaputro, Drs. Gunawan, M.B.A dan Asri, Drs. Marwan, M.B.A, 2003, Anggaran Perusahaan, Yogyakarta, BPFE-YOGYAKARTA.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

tugas ekonomi mandiri : Membangun Ekonomi Kerakyatan

Geo Politik Indonesia PKN